Bayi Premature adalah Mukjizat Yang Luar Biasa

Wah sudah lama sekali ya tidak menulis lagi di blog ini.ย  Oke lanjut bercerita tentang perjalanan sikecil Gabriel Jonathan lahir kedunia. Sebelum menikah kami melalui dengan hari hari yang normal, dan 3 bulan setelah menikah istri mengandung. Sampai pada akhirnya Istri harus melewati pendarahan yang berulang ulang. Dari yang di vonis positif kista, dan mukjizat terjadi kista hilang tak berbekas, sampai pendarahan di trimester pertama, perjuangan kami tidak berhenti sampai disitu. Sempat 8 hari bedrest rawat inap yang cukup melelahkan mental dan fisik dimana harus memikirkan keselamatan istri dan juga buah hati pertama kami serta uang yang tidak sedikit untuk membayar rumah sakit. Ini semua demi memperjuangkan si kecil hadiah yang tiada duanya ๐Ÿ™‚

Namun ternyata ujian kami tidak hanya sampai disitu saja. Setelah sembuh dari bedrest yang panjang. Menginjak usia kehamilan bulan ke 5ย  istri sudah diperbolehkan beraktivitas normal, tetapi tetap berhati hati tidak boleh terlalu capek ataupun menganggkat beban berat. Dari yang tadinya kamar tidur kami di lantai atas, sementara pindah ke lantai bawah. Supaya tidak sering naik turun tangga.

Memasuki usia kandungan 8 bulan, di jam 2 malam (masih ingat betul moment itu) Istri mengeluhkan ada yang merembes. Seperti air kencing. Sayapun mengambilkan tisu untuk mengelapnya. Dan kedua kalinya terjadi. Saya ambilkan tisu lagi. Disitu sudah ada pikiran panik namun tetap berusaha menenangkan keadaan. Tisu itu kami tunjukan ke papah mamah (terpaksa bangunin ortu). Coba ditempel tisu kalau masih merembes lagi segera pergi kerumah sakit. Dan benar masih tetap merembes. Langsung tanpa pikir panjang kami bersiap untuk bergegas kerumah sakit Dr Oen Solobaru.

Di perjalanan kontraksi terjadi, sakitnya luar biasa kata istri. Jam setengah 3 pagi sesampainya di Rumah sakit langusng diperiksa perawat jaga. Ternyata itu rembesan air ketuban. Posisi sudah buka’an satu. Perawat segera menghubungi dokter Kartipin (dokter kandungan yang merawat istri sejak pendarahan). Karna kondisi sudah tidak memungkinkan, akhirnya dilakukan tindakan operasi caesar karena posisi janin juga terlilit tali usus (kalung usus). Padahal usia kandungan masih 8 bulan. Tetapi jika tidak dilakukan tindakan justru akan membahayakan janin dan juga ibu nya tentunya. Saya terus berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar. Dan yang terpenting bayi kami bisa lahir dengan sempurna dan selamat itu saja.

Sebelum masuk ke ruang operasi, Dokter kartipin menghampiri saya dan berkata terus berdoa ya. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Dan saya disuruh menunggu di ujung pintu keluar. Detik detik yang mungkin tidak akan bisa saya lupakan. Berusaha tetap tenang dan berfikir positif. Tepat jam setengah 5, putra pertama kami lahir. Gabriel Jonathan Permana lahir 1 April 2015. Dengan berat hanya 1,8 gram saja. Saat itu suster menyuruh saya untuk masuk melihat Gabriel untuk pertama kalinya. Suster menjelaskan dengan detail kondisi bayi laki laki kami. Semuanya normal, mata, telinga, hidung, mulut, anus, namun tampak lebam biru biru (kemungkinan terbentur perut ibunya waktu diambil) ada permasalahan di kakinya yang berbentuk O (melengkung) tapi kata susternya ini biasa pak dan bisa diperbaiki dengan rutin fisioterapi. Cukup melegakan mendengar kata suster.

Pertama melihat Gabriel sungguh menyayat hati sekaligus bercampur bahagia yang luar biasa karena ini putra pertama yang kami nantikan. Dengan berat yang jauh dibawah normal Gabriel perlu mendapatkan perawatan khusus.

Setelah persalinan dilewati dengan lancar, masih banyak problem yang harus kami hadapi. Biaya yang tidak sedikit untuk menebus semuanya. Waktu itu Istri saya dirawat di Gedung Ibu dan anak. Sedangkan Gabriel harus menginap di ruang khusus dengan bantuan incubator untuk menghangatkan suhu tubuhnya. Karena dengan bobot yang hanya 1800 gram dan dengan kondisi organ yang belum siap betul untuk lahir kedunia, perlu bantuan incubator, deteksi detak jantung, dan oksigen untuk alat bantu bernafas.

Kondisi yang tidak mungkin bisa saya ceritakan kepada Istri saat itu. Yang saya pesankan hanya satu waktu itu. Cepet pulih, cepet pulang biar biayanya gantian buat anak kita. Dihari ke dua Istri sudah boleh keluar menjenguk Gabriel di ruang incubator dengan bantuan kursi roda. Karena kondisinya yang kecil mungil tidak memungkinkan Gabriel untuk netek langsung. ASI diperah dan di suntikan perlahan melalui selang yang dimasukan melalui hidung menuju lambung :'( Itu adalah 5 ml ASI pertama yang mungkin tidak dia rasakan karena tidak melalui mulut.

Di hari ke 3 Istri sudah bisa untuk jalan, dan diperbolehkan pulang. Biaya kami fokuskan untuk proses pemulihan Jojo. Biaya sewa gedung, dan peralatannya saja sudah cukup mahal buat kami. Di tambah lagi dengan obat dan tindakan medis yang biayanya tidak murah. Proses pemulihan Jojo saat itu kondisinya naik turun. Target Dr Pongky (dokter anak) adalah untuk meningkatkan berat badan ke angka normal. Minimal 2Kg baru diperbolehkan pulang. Namun ternyata kondisinya naik turun. Sempat mengalami minum muntah. Dari yang tadinya 5 ml di evaluasi menjadi 3 ml. Bahkan pernah dicoba hanya 2ml. Padahal bayi normal membutuhkan 5-7 ml untuk 2 jam sekali.

Akhrinya diberi Gammarass karna katanya untuk meningkatkan imun, kemungkinan didalam masih ada bakteri akibat minum air ketuban. Sempat juga dilakukan foto rongent untuk melihat saluran dari mulut tenggorokan hingga lambung, dan diberi tindakan cairan (lupa namanya) untuk mengobati penyempitan usus. Semua upaya sudah dilakukan. Namun minum muntah tidak kunjung berhenti. Berat bobotnya bukannya naik malah turun ke 1,7Kg.

Karena asupan ASI yang tidak memadahi, Bilirubinย  naik cukup tinggi. Al hasil Gabriel harus di beri lampu biru (Blue light) 8 buah lampu.

Tabungan semakin menipis, tetapi kondisi tak kunjung membaik. Akhirnya dokter Pongki menyarankan kami untuk mendatangkan pendeta. Untuk mendoakan Gabriel dan menyerahkan semuanya ke pada Tuhan. Waktu itu tante Handoko kepala (kelompok sel mamah saya) dengan senang hati bersedia meyalani. Tante han dan teman teman kelompok sel diperbolehkan masuk ke ruangan dan mendoakan untuk kesembuhan Gabriel. Kami semua berserah kepada Tuhan. Kami sungguh di legakan waktu itu. Kami percaya Tuhan yang menyediakan semuanya, baik dana dan juga kesembuhan sudah tersedia bagi Gabriel.

Sejak hari itu Puji Tuhan kondisi gabriel perlahan semakin membaik. Yang tadinya saya kepikiran terus dengan biaya. Sejak saat itu tidak lagi terbebani. Karena semuanya pasti sudah di cukupkan.

Evaluasi ASI juga sempat dilakukan, digantikan dengan S26 Cair (dalam botol) untuk menambah berat badannya. Masa pemulihan masih berlanjut, tetapi Dr. Pongki ijin cuti untuk ke Amerika. Tepat di hari ke 28. Kami mengajukan untuk membawa pulang Jojo. Melihat kondisi yang stabil, suhu tubuhnya sudah bisa normal tanpa bantuan incubator, dan sudah dapat minum melalui mulut akhirnya Gabriel diperbolehkan untuk pulang.

Wellcome to Home Gabriel ๐Ÿ™‚

Gabriel Jonathan Permana

Sebelum pulang kami dibekali dengan hal hal teknis. Selalu cek suhu, untuk menghangatkan suhu bayi kami dekap secara bergantian (kulit bersentuhan dengan kulit) Kami juga menyiapkan lampu khusus untuk menghangatkan suhu tubuhnya. Berjemur setiap pagi. Termometer dan alat penyedot hidung bayi menjadi senjata kami.

Dari perjalanan itu semua, semakin menguatkan iman kami. Inilah kesaksian kami, Bahwa tidak ada yang mustahil apabila kita mengandalkan TUHAN. Semua seakan sudah digariskan, sudah ada yang membackup. Siapa lagi kalau bukan Tuhan. Seluruh biaya di tanggungnya seluruh beban di pikulnya. Kita tidak dibiarkan berjalan sendirian. Tuhan memberkati.

Posted in Masalah Kehamilan | Leave a comment

Perjuangan Bedrest Untuk Memperjuangkan Kehamilan

Setelah melewati 8 Hari Rawat Inap Pendarahan Berhenti. Masih tetap full bedrest dirumah. Segala aktivitas dilakukan diatas tempat tidur. Bukan hanya hitungan hari ataupun minggu namun berbulan bulan. Sungguh perjuangan yang luar biasa menurut saya. Ini adalah jalan yang harus saya beserta Istri lalui untuk tetap mempertahankan Jojo.Bedrest Paska Pendarahan

Banyak hal yang dapat kami syukuri dalam menjalani perjalanan hidup ini. Puji Tuhan karena saya ditakdirkan berprofesi sebagai internet marketer, yang dapat bekerja dari rumah. Menjadikan saya dapat mengurus sendiri Istri saya secara penuh. Kesabaran dalam melayani serta dukungan suami menurut saya sangat sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti ini. Jadi bagi siapapun suami yang kebetulan berada di posisi yang sama, mari saya ajak untuk membuang sebentar rasa ego, emosi dan lelah demi memperjuangkan sang buah hati. Apabila tidak dapat mengurus istri secara penuh karena kendala harus bekerja di luar rumah, setidaknya menitipkan istri kepada orang tua agar dapat melayani penuh saat Istri bedrest.

Istri saya sedikitpun tidak diperbolehkan untuk jalan ataupun sekedar berdiri sebelum kandungan cukup kuat serta luka benar benar sembuh total. Makan minum di atas ranjang mungkin bisa dianggap bukan hal yang merepotkan, namun untuk hal buang air kecil dan air besar dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran bagi yang merawat. Waktu itu saya stok popok dewasa untuk keperluan buang air kecil. Yang sedikit susah adalah buang air besar. Karena dalam kondisi tubuh bedrest, berbaring terlalu lama. Metabolisme pencernaan tubuh otomatis akan sedikit terganggu. Ini menyebabkan Istri saya susah untuk BAB. Dan musti dibantu dengan obat pencahar yang dimasukan kedalam salurah pembuangan.

Awal awal menjalani bedrest benar benar saat dimana kesabaran suami di Uji. Memandikan Istri tiap pagi dan sore menjadi rutinitas baru bagi saya. Dan semuanya dilakukan diatas ranjang. Kebersihan organ kewanitaan dan saluran pembuangan benar benar harus dijaga. Kebutuhan yang wajib ada adalah tisu basah, dan juga baby cream untuk menjaga agar kulit tidak iritasi dan timbul jamur.

Mungkin itu, pengalaman yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat.

Posted in Masalah Kehamilan | Tagged , | Leave a comment

8 Hari Rawat Inap Pendarahan Berhenti

Setelah kami putuskan untuk rawat inap lagi di Rs Dr Oen Solobaru, hari demi hari kami berpengharapan agar pendarahan pada Istri saya dapat segera berhenti. Masih sangat tergambar jelas suasana berada di ruang VIP Gedung Ibu dan Anak. Saya, Istri dan Ibu mertua menghabiskan waktu di rumah sakit. Saya dan Ibu mertua yang selalu menemai Istri saya full bedrest total di rumah sakit. Sesekali kerabat, saudara, dan teman datang menjenguk. Minimal istri saya dapat sedikit terhibur.

Alasan kami memilih gedung VIP agar istri dapat lebih istirahat. Karena saya tau bagaimana yang dirasakan Ibu Hamil anak pertama dan mengalami pendarahan pada awal kehamilannya. Penuh tekanan dan stress berat, mungkin itu yang bisa saya gambarkan.

Hari demi hari kami lalui. Pada hari pertama istri saya sudah mendapatkan penanganan obat baik minum dan juga suntik yang dimasukan melalui selang infus. Aktivitas hanya berbaring diranjang rumah sakit, makan, minum, pipis, buang air besar semuanya dilakukan diatas ranjang. Saya sangat berterimakasih sekali kepada suster yang melayani dan merawat istri saya pada waktu itu. Pada hari kedua, Istri saya dijadwalkan untuk di USG 4 dimensi. Waktu itu yang menangani masih sama yaitu Dr. Eliana. Sebelum dilakukan USG istri saya dianjurkan untuk tidak buang air kecil dulu. Tujuannya untuk mempermudahkan dalam melakukan pemeriksaan.Ilustrasi usg 4 dimensi

Di ruang pemeriksaan saya diperbolehkan menemani Istri saya. Waktu itu Dr Eliana sangat sabar sekali melakukan pemeriksaan. Sekitar 15 menit lebih ada mungkin. Dari hasil pemeriksaan ternyata ditemukan ada 2 kantong calon janin. Waktu mendengar hal itu kami sangat mengucap syukur. Puji Tuhan diberi anak kembar. Karena pada pemeriksaan sebelumnya, belum diketahui kalau ternyata ada 2 kantung. Namun sayangnya kantung yang satu ukurannya berbeda dengan yang satunya, dan belum tampak ada isi atau calon janinnya. Namun Dr Eliana tetap membesarkan hati kami, tidak apa apa di pertahankan semoga saja nanti bisa menyusul pertumbuhannya. Pada saat itu kondisi janin yang satunya sudah tampak ada isi atau calon janinnnya. Dan posisi nya masih dalam kondisi aman. Belum beranjak turun. Karna pada kasus pendarahan yang sudah diambang keguguran umumnya kondisi janin posisinya sudah mulai turun.

Kemudian kami tanya ke Dr Eliana untuk memeriksa apakah kistanya masih ada? Kaena pada awal awal kehamilan Istri saya didiagnosa ada kistanya. Setelah dicek berulang ulang Puji Tuhan kistanya sudah tidak ada. Kami imani kalau ini adalah mukjizat dari Tuhan.

Hasil USG sedikit memberikan kami penghiburan. Namun rasa stress dan ketakutan masih terus ada di dalam diri Istri saya. Pendarahan masih terus berlanjut meski obat sudah mulai diberikan. Setiap malam saya dengarkan radio El Shaddai FM 91.30 MHz. Disana saya dikuatkan dengan mendengarkan lagu puji pujian, kotbah pendeta gereja setiap malam. Saya imani setiap saat kalau semuanya akan baik baik saja. Pertolongan Tuhan akan Indah pada waktunya.

Barangkali kalau dari mata jasmani saya melihat darah yang selalu ada, menempel pada pembalut istri saya ketika mau buang air kecil. Rasanya sudah ingin menyerah. Namun saya percaya rancangan Tuhan bukan rancangan kecelaka’an melainkan rancangan damai sejahtera.

Dari obat yang diberikan ternyata ada yang kurang cocok dengan istri saya. Waktu itu obat yang disuntikan melalui selang infus. Setiap kali disuntikan efek sampingnya istri saya mual. Sampai pernah juga sampai muntah. Dan mulai dikurangi dan digantikan ke obat minum. Permasalahan yang kedua adalah Istri saya paling tidak bisa minum obat secara langsung, harus dibantu dengna pisang. Nah parahnya waktu itu setiap minum obat pakai pisang istri saya juga ingin muntah. Mungkin bawaan nyidam. Padahal kondisi seperti ini sangat membahayakan janin yang saat itu masih ada luka pendarahan. Karena pada saat mual muntah otomatis perut bereaksi kontraksi. Setiap datang jam minum obat / suntik obat adalah waktu dimana ketegangan menyergap. Siap siap kantung plastik untuk jaga jaga kalau muntah.Dari observasi Dr Kartipin justru obat suntiklah yang pasling manjur untuk mengurangi pendarahan. Karena setelah obat suntik dihentikan dan digantikan full obat minum, pendarahan semakin sering. Dari situ terpaksa tetap memberikan obat suntik dan obat minum agar lebih maksimal. Istri saya mau tidak mau harus menahan rasa mual.

5 Hari setelah USG, Dijadwalkan untuk cek USG lagi. Dan masih dengan Dr Eliana yang menangani. Pemeriksaan USG kali ini bisa dibilang kabar yang menggembirakan tapi juga kabar yang kurang baik untuk kami. Pada saat pemeriksaan berlangsung saya masih ingat betul kecemasan Istri saya. Saya bilang ke Istri waktu itu, tetap tenang jangan stress, jangan berfikir yang negatif tetap percayakan semuanya kepada Tuhan. Saya pegang tangannya pada saat pemeriksaan berlangsung. Saya pun juga berdoa dalam hati karena sampai saat itupun pendarahan belum juga sembuh.Dari hasil pemeriksaan kabar buruknya adalah kantung yang satunya tidak berkembang dari ukurannnya bukannnya membesar malah mengecil dan kondisi masih tetap kosong tidak ada calon janin. Namun janin yang satunya berkembang. Namun pada saat dicek detak jantungmya. Belum ada tanda tanda jantung berdetak. Yang seharunya di usia kandungan saat itu normalnya sudah ada tanda tanda detak jantungnya. Cukup lama waktu itu Dr Eliana memeriksa kondisi janin. Istri saya berinisiatif untuk menahan nafas sebentar pada saat Dr Eliana mencoba kembali memeriksa detak jantung janin. Dan Puji Tuhan disaat itulah tampak jantung mulai berdetak. Kami sangat lega sekali waktu itu. Meski kami harus merelakan calon janin yang satunya. Mungkin Tuhan belum mempercayakan bayi kembar kepada kami.

Keesokan harinya Dr. Kartipin vsit dan memberikan nasehat, Tidak apa apa dipercayakannya hanya satu. Di kasih dua ya Puji Tuhan, dikasih satu ya bersyukur. Waktu itu dicek pembalutnya sudah bersih. Tidak ada pendarahan yang menempel. Dr Kartipin sekalin ijin untuk pergi kebali selama 3 hari. Ada acara keluarga, meghadiri pernikahan keluarganya. Dan selama Dr Kartipin ijin, digantikan Dr pengganti. Waktu itu Dr Ari. Saya dan Istri mengiyakan saja. Karana apa boleh buat.

Keesokan harinya saya juga ijin pulang kerumah, Istri dan Ibu mertua saya tinggalkan di rumah sakit. Karena selama di rumah sakit pekerjaan saya sedikit terbengkalai. Beberapa hosting dan vps server lupa belum dibayar. Alhasil blog blog saya down selema berhari hari tidak saya pantau karena fokus mengurusi Istri saya. Bisa saja saya bawa laptop ke rumah sakit dan mengerjakan pekerjaan dari rumah sakit. Namun saya pikir akan percuma juga. Karena susah untuk fokus. Waktu itu saja dirumah saya hanya sempat untuk cek email, cek invoice yang masuk dan segera melunasinya. Setelah itu bingung mau ngapain. Karena konsentrasi terpecah ke rumah sakit. Kabar baiknya saat itu dollar sedang naik, saya cek balance paypal dan segera saya cairkan ke rekenng bank. Puji Tuhan biaya rumah sakit bisa terbayarkan dan masih ada sisa.
Singkat cerita saya di telf Istri saya dari rumah sakit. Katanya di suruh cek USG lagi sama dr pengganti. Istri saya mengiyakan saja karena posisi saya masih ada di rumah dan Istri saya yang mengambil keputusan. Saya bilang ke Istri saya untuk membatalkannya. Karena sebelum Dr Kartipin ijin, saya tanya kalau USG nya dijadwalkan selang 6 hari kemudian. Karena hasilnya tidak akan jauh beda dan akan buang buang uang kalau rentan waktunya terlalu dekat. Saya pikir, masuk akal juga. Karena tujuan USG kan untuk memeriksa bagaimana perkembangan janin. Dan akhirnya USG dengan dr pengganti tidak jadi.

Malam harinya pada saat saya cek perpan pembalutnya, benar benar syok. Ada segumpalan darah yang keluar. Dan saya tarik maaf seperti lendir merah agak panjang. Saya sudah berfikir, jangan jangan keguruan. Karena saya ingat waktu teman saya nana bercerita pada saat dia keguguran ada keluar seperti tisu panjang gitu berwarna putih. Tapi yang saya liat ini warnanya merah. Saya langsung panggil suster. Saya kuatkan istri, kita pasrah saja. Kita serahkan semuanya kepada Tuhan. Saya dan Istri nangis waktu itu. Seakan akan sudah mengalami keguguran, padahal belum tentu. Wajar karna kami awam, hanya tau informasi dari teman dan juga searching di internet. Selang tidak lama suster datang untuk mengecek. Dan kata suster itu hanya keputihan biasa. Dalam hati saya, ini susternya nutup nutupi karna didepan Istri saya atau memang benar keputihan. Waktu itu masih ada keraguan di dirii saya. Waktu suster keluar ruangan, saya juga ikut keluar ruangan untuk menanyakan sekali lagi ke suster.

Suster itu bukan keguguran?
Bukan Pak itu sepertinya keputihan biasaya.
Tapi Kok merah?
Soalnya Ibu kan masih pendarahan, jadi ada darah yang ikut keluar bersama keputihannya.
Tadi saya tarik lumayan panjang itu.
Iya pak, itu sepertinya keputihan saja.
Coba dilaporkan ke dr Kartipin ya.
Baik pak, nanti kita telf kan.
Selang tidak berapa lama, susternya mengabarkan kalau tidak apa apa, hanya keputihan saja.

Kalau dipikir pikir, kenapa malah saya yang menjadi ciut mentalnya. Bukannya saya yang harus membesarkan hati istri saya untuk tetap berfikiran positif dan tetap berpegang teguh kepada Tuhan ๐Ÿ˜€ Ya begitulah saudara saudara, namanya manusia biasa terkadang bisa putus asa. Tampaknya saya sudah melupakan satu ayat yang kami sepakati untuk imani.

Matius 9:20-22 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. (21) Karena katanya dalam hatinya: โ€œAsal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.

Singkat cerita, Puji Tuhan tepat di hari ke 8, istri saya di ijinkan pulang. Waktu itu dengan dr pengganti. Karena dicek sudah 2 hari berturut turut sudah tidak terjadi pendarahan. Rasanya sangat lega sekali mendegar kabar itu. Dan mulai saat itu, kamar kami pindah di bawah dulu. Tukar kamar dengan orang tua saya. Papah Mamah diatas, saya dan Istri di kamar bawah. Karena meski sudah tidak pendarahan, tetap di suruh full bedrest dirumah.

Posted in Masalah Kehamilan | Tagged , , , | Leave a comment

Perdarahan Kehamilan di Trimester Pertama

Kehamilan adalah hal yang paling kami nantikan sebagai sepasang suami istri yang baru saja menikah. Menginjak di bulan ketiga setelah pernikahan, istri saya dinyatakan positif hamil meski di diaknosa ada kista. Hari hari awal kehamilan kami lewati dengan hati yang sangat sukacita, yang kami pikirkan hanyalah mempersiapkan gizi dan kontrol ketat asupan makanan yang istri saya makan. Semuanya berjalan normal, hingga pada hari dimana suasana berubah tiba tiba. Pagi hari saya di bangunkan dan dikagetkan istri saya yang bilang kalau keluar darah warna coklat (flek) setelah buang air kecil.

ilustrasi pendarahan trimester pertama

Saya spontan tanya, “Kamu makan apa?” Istri saya mengaku tidak makan apa apa yang sekiranya membahayakan janin. Tapi Istri cerita kalau tadi pagi kepasar sendirian, naik motor untuk beli pisang. Kebetulan istri saya tidak bisa minum obat langsung telan, jadi dibantu pakai pisang. Biasanya sih nyuruh orang buat belikan. Nah karena stok pisangnya habis, Istri saya berangkat sendiri naik motor. Mungkin itu salah satu penyebabnya. Jadi bagi ibu ibu yang hamil muda atau hamil tua, mending jangan nekat naik motor apalagi sendirian. Karena kita tidak pernah tau kondisi janin. Bagi sebagian orang yang normal normal saja tidak ada masalah meski naik motor sekalipun, tapi bagi sebagian orang yang kondisi janinnya lemah seperti yang dialami istri saya, akibatnya bisa sangat fatal.

Segera kami konsultasikan dengan dokter kandungan kami, melalui telefon. Pada waktu itu masih di suruh istirahat. Jujur waktu itu saya panik, tetapi tetap saya tenangkan istri saya agar tetap berfikiran positif dan istirahat seperti yang di anjurkan dokter.

Siang harinya masih keluar flek. Dan flek ini selalu berulang setelah buang air kecil. Saya telf kembali Dokter Kartipin dan menjelaskan kalau flek masih keluar. Waktu itu flek nya masih warna coklat dan sedikit. Seperti jika wanita sedang akan berhenti haid. Dokter menyarankan untuk kontrol, dan sore harinya kami kontrol. Waktu itu masih rawat jalan dan diberi resep obat untuk menguatkan kandungan serta beberapa suplemen vitamin. Dirumah Istri sudah mulai bedrest, dan tidak melakukan aktivitas apapun.

Siang, Keesokan harinya flek masih tetap keluar dan kali ini lebih banyak. Kami konsultasikan dan dianjurkan ke rumah sakit. Malamnya kami ke UGD Dr Oen, di ruang bersalin istri saya diperiksa. Dan disarankan rawat inap. Waktu itu istri dirawat di Gedung kebidanan ruang kelas 2. Di satu ruangan terdapat 3 pasien yang dibatasi tirai. Saya dan Om saya menginap disana menungguin Istri saya. Tidur dengan alas seadanya. Jujur ini baru pertama kalinya saya menginap di rumah sakit, sejak kecil saya belum pernah dirawat (jangan sampai) ataupun menunggui orang di rumah sakit. Ternyata seperti ini suasananya. Malam itu istri saya dapat tidur dengan nyenyak karena suasananya sepi, karena kebetulan masuk opname nya malam.

Malam sampai paginya masih nyaman dengan perawatan suster yang jaga yang ramah memberikan pelayanan. Karena waktu itu istri saya sudah mulai full bedrest, buang air kecil pun pakai pispot stainless stil. Rutinitas buang air kecil, cebok, semua dilayani suter jaga dengan baik. Sedikit unek unek, pada waktu siangnya suasana berubah menjadi ramai. Pasien sebelah ada yang jenguk. Parahnya lagi bawa anak anak dan seolah olah dibiarkan orang tuanya berlarian. Istri saya mulai tidak nyaman karena waktu besuknya bertepatan pada waktu tidur siang. Segera saya minta suter jaga untuk memberi tahu pasien sebelah agar tidak teriak teriak, atau lari larian di dalam ruangan. Paling tidak biar di tegur orang tuanya. Karena mengganggu ketenangan jam istirahat. Suter pun seakan tidak berani menegur. Pelayanannya pun juga semakin kesini semakin tidak mengenakan. Kemungkinan pas jam jaga malam, pergantian suster jaga. Dan kebetulan dapat jatah suster yang sangat sangat tidak mengenakan. Wajar orang bedrest nyuruh bolak balik suster jaga untuk melayani buang air kecil karena itu sudah tugasnya.

Di hari pertama istri saya di USG, waktu itu yang menangani Dokter Eliana. Dari hasil USG, Puji Tuhan kondisi janin masih bagus. Tidak ada kerusakan, dan posisi masih pada tempatnya. Umumnya kalau posisi sudah turun, kemungkinan besar bisa keguguran. Karena hasilnya bagus tetap di upayakan untuk dipertahankan.

Setelah hari ke 4, Istri saya sudah boleh pulang karena sudah tidak keluar flek lagi. Tapi setelah mau pulang, Flek itu datang lagi. Dokter menyarankan untuk tetap rawat inap. Saya dan istri sepakat untuk tetap pulang hari itu karena sudah tidak betah. Dan kami menandatangani surat pernyataan. Menyatakan menolak untuk dirawat selanjutnya dan telah memaksa Pulang atas kemauan sendiri dengan menanggung segala akibatnya. Waktu itu saya berfikir saya bisa merawat istri saya sendiri dirumah. Di rumah lebih nyaman, lebih bisa istirahat. Pelayanannya pun bisa saya lakukan sendiri. Untungnya saya kerja dirumah jadi bisa merawat istri dengan penuh. Benar benar full bedrest, pakai pampers, ganti pampers, buang air kecil, buang air besar, makan, minum, semuanya saya yang melayani. Bedanya obatnya obat jalan / minum. Tidak suntik &seperti di rumah sakit.

Pada waktu dirumah, sudah bedrest total tapi flek pendarahan masih berlanjut. Sampai di suatu siang terjadi pendarahan yang banyak dan kali ini warnanya gelap coklat (maaf seperti kecap) keluar seperti keputihan. Kepanikan mulai muncul, saya dan istri sempat bersitegang. Karena waktu itu istri saya bisanya cuman nangis, dan selalu berfikiran negatif. Sayapun tambah panik. Saya hubungi Dokter Kartipin, kebetulan waktu itu sedang operasi juga. Dan masih sempat mengangkat telf dari pasiennya. Dokter kartipin tidak berani memberi kesimpulan karena harus di periksa secara langsung. Sore nya kami bergegas kontrol, istri saya di USG. Dokter menjelaskan kalau terdapat luka pada ari ari janin Gabriel, dan disarankan untuk kembali rawat inap. Karna jika tidak ditangani secara khusus bisa beresiko keguguran.

Saya berusaha kembali menenangkan istri agar tetap berfikiran positif dan jangan stress, karena pastinya berpengaruh ke janin. Dimalam harinya saya bergumul kepada Tuhan, saya dengarkan lagu puji pujian sambil berdoa. Airmata mulai mengalir deras, campur aduk, rasa cemas, takut, bingung, sudah ndak karuan rasanya dan sempat mengadu kepada Tuhan.

Tuhan kalau memang ini jalanmu, kalau memang janin ini belum Engkau percayakan kepada kami, ambilah. Tetapi jika ini Engkau titipkan kepada kami, Berkati dan sembuhkan janin ini Tuhan.

Sekitar tengah malam, saya coba kontak teman saya Vita Agustina. Dan kebetulan Nana masih bangun dan membalas bbm saya. Saya cerita apa yang sedang saya alami. Nana sendiri juga pernah mengalami flek, dan disuruh bedrest juga. Tapi Tuhan berkehendak lain, Nana keguguran. Dari pengalaman Nana sebelumnya, dia mendorong saya untuk tetap mempertahankan janin yang ada di kandungan Istri saya. Kata kata yang masih teringat di kepala saya adalah

“Itu nyawa lo ngga, jangan menyerah tetap pertahankan. Jangan sampek kamu nyesel nantinya.”

Saya mengimani ini adalah jawaban Tuhan, melalui nana saya di kuatkan. Saya percaya Tuhan yang akan membuat ini semuanya indah. Pagi harinya saya bilang ke istri untuk segera berkemas kemas, bawa pakaian ganti. Kita ke Dr Oen untuk rawat inap. Karena sebelumnya sudah merasakan suasana di ruang 2 Gedung kebidanan, kali ini saya memilih ruang VIP Gedung Ibu dan Anak. Sudah tidak memikirkan berapa biaya yang akan kami keluarkan karena saya yakin Tuhan akan mencukupkan semuanya, yang terpenting waktu itu adalah Istri saya nyaman dan janin selamat. Pergumulan kami masih berlanjut tidak hanya sampai disini. Kami perjuangkan janin ini, kami serahkan semuanya kepada Tuhan. Satu ayat yang kami pegang

Matius 9:20-22 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. (21) Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.

Posted in Masalah Kehamilan | Tagged , | Leave a comment

Positif Hamil Tapi Ada Kista Mukjizat Masih Ada

Selamat datang di web blog www.prafanggapermana.com, perkenalkan nama saya prafangga permana. Seorang ayah yang diberi anugrah buah hati Gabriel Jonathan Permana. Melalui blog ini, saya akan berbagi perjalanan hidup bagaimana mendapatkan mukjizat bayi yang lahir premature. Ya saya menyebutnya ini adalah mujizat. Karena tanpa pertolongan Tuhan Gabriel tidak akan lahir kedunia ini dengan selamat.

Perjalanan hidup saya, mulai dari lahir, sekolah, kuliah, sama seperti kehidupan yang dialami orang pada umumnya. Hingga akhirnya menikah dengan mantan teman kuliah yang saat ini menjadi istri saya ๐Ÿ™‚ Pada tanggal 24 Mei 2014 kami menikah. Sebagai pasangan yang baru saja menikah, tentunya kami sangat menantikan kehadiran bayi pertama kami. Menginjak 3 bulan paska pernikahan kami, Puji Tuhan sudah terlihat 2 tespek dua garis tapi samar samargaris pada alat tespek, namun yang satu terlihat jelas dan yang satu masih samar samar. Untuk memastikannya kami mulai kontrol ke dokter spesialis kandungan, waktu itu kami ke Dr. “E” di kustati solo. Setelah di USG, janinnya tidak terlihat. Perkiraan dari dokter tersebut karena usia kandungan masih muda kira kira 7 mingguan. Bisa jadi juga karna sebelum cek USG istri saya habis buang air kecil jadi urin didalam rahim sedikit. Dr tersebut menyarankan untuk datang ke tempat praktiknya karna disana alat USG nya lebih canggih tidak seperti yang ada di RS tersebut.

Singkat cerita istri saya tidak sabaran dan kami pindah kedokter “I” untuk cek USG. Dari situ kami sangat kaget karena yang tadinya kami hanya untuk memastikan benar benar positif atau tidak malah kami diberitahukan kalau ada kista didalam rahim istri saya. Secara spontan saya bertanya kepada Dokter tersebut

“Gimana dok keadaan janinnya, Ndak papa kan?”

Dokter itu memberikan jawaban yang makin membuat istri saya stres,

“Sudah tidak perlu mikirkan bayi nya, yang penting pikirkan dulu kistanya.”

Setelah itu kami tebus obat yang diresepkan dan bergegas pulang, sambil nyetir saya mencoba membesarkan hati istri saya. Setibanya dirumah istri saya langsung bergegas masuk kekamar, nangis sejadi jadinya. Saya coba kontak salah seorang teman saya, Vita Agustina. Saya ceritakan apa yang sedang kami alami. Nana menyarankan untuk pindah ke Dr Daniel Kartipin, alasannya karena Dr Kartipin termasuk dokter yang sabar, dan kata katanya sangat membangun bagi pasien pasiennya, sangat berbeda dengan Dr. “I” sebelumnya.

Dr. Daniel Kartipin SpOGSaya ngobrol sambil membesarkan hati Istri saya yang pikirannya masih tak karuan waktu itu, dan menyarankan gimana kalau kita coba ke Dr Daniel Kartipin. Saat itu juga kami jadwal pendaftaran via telf dan bergegas pada sore harinya ke Apotik Sinar Waras, Solo baru tempat praktik Dr Kartipin. Singkat cerita istri saya pun di periksa, dan dinyatakan positif hamil ๐Ÿ˜€ Waktu itu masih berupa titik usia kurang lebih 7 minggu. Selesai memeriksa kandungan istri saya, sembari menuliskan resep. Saya bertanya kepada Dr Kartipin.

Dokter, maaf ada kistanya tidak?

Dr Kartipin menjawab, “Ada tapi kecil, ndak papa. Ndak usah dipikirkan.”

Kalau kasus ada kista seperti ini, apa yang harus dilakukan ya dok?

“Ndak apa apa, yang penting Berdoa” ๐Ÿ™‚ dokternya sambil senyum.

Sepulang dari Apotik Sinar Waras, Istri saya cukup lega dengan penjelasan Dokter Kartipin. Ditengah perjalanan, Saya kembali mencoba membesarkan hati Istri saya. Puji Tuhan, kita beruntung karna bisa “jadi”. Karna biasanya kasus kista susah hamil lo. Istri saya tersenyum sambil nangis terharu waktu itu.

Sejak saat itu Istri saya rutin minum obat yang diresepkan Dr Kartipin, dan Obat yang dari Dr “I” kita buang karna sudah cocok ke Dr Daniel Kartipin. Istri saya juga jadi rajin browsing info seputar makanan sehat untuk ibu hamil. Namun perjalanan cerita kami tidak selesai sampai sini, Istri saya mengalami perdarahan pada kehamilan bulan ketiga. ๐Ÿ™

Posted in Masalah Kehamilan | Leave a comment