Bayi Premature adalah Mukjizat Yang Luar Biasa

Wah sudah lama sekali ya tidak menulis lagi di blog ini.  Oke lanjut bercerita tentang perjalanan sikecil Gabriel Jonathan lahir kedunia. Sebelum menikah kami melalui dengan hari hari yang normal, dan 3 bulan setelah menikah istri mengandung. Sampai pada akhirnya Istri harus melewati pendarahan yang berulang ulang. Dari yang di vonis positif kista, dan mukjizat terjadi kista hilang tak berbekas, sampai pendarahan di trimester pertama, perjuangan kami tidak berhenti sampai disitu. Sempat 8 hari bedrest rawat inap yang cukup melelahkan mental dan fisik dimana harus memikirkan keselamatan istri dan juga buah hati pertama kami serta uang yang tidak sedikit untuk membayar rumah sakit. Ini semua demi memperjuangkan si kecil hadiah yang tiada duanya 🙂

Namun ternyata ujian kami tidak hanya sampai disitu saja. Setelah sembuh dari bedrest yang panjang. Menginjak usia kehamilan bulan ke 5  istri sudah diperbolehkan beraktivitas normal, tetapi tetap berhati hati tidak boleh terlalu capek ataupun menganggkat beban berat. Dari yang tadinya kamar tidur kami di lantai atas, sementara pindah ke lantai bawah. Supaya tidak sering naik turun tangga.

Memasuki usia kandungan 8 bulan, di jam 2 malam (masih ingat betul moment itu) Istri mengeluhkan ada yang merembes. Seperti air kencing. Sayapun mengambilkan tisu untuk mengelapnya. Dan kedua kalinya terjadi. Saya ambilkan tisu lagi. Disitu sudah ada pikiran panik namun tetap berusaha menenangkan keadaan. Tisu itu kami tunjukan ke papah mamah (terpaksa bangunin ortu). Coba ditempel tisu kalau masih merembes lagi segera pergi kerumah sakit. Dan benar masih tetap merembes. Langsung tanpa pikir panjang kami bersiap untuk bergegas kerumah sakit Dr Oen Solobaru.

Di perjalanan kontraksi terjadi, sakitnya luar biasa kata istri. Jam setengah 3 pagi sesampainya di Rumah sakit langusng diperiksa perawat jaga. Ternyata itu rembesan air ketuban. Posisi sudah buka’an satu. Perawat segera menghubungi dokter Kartipin (dokter kandungan yang merawat istri sejak pendarahan). Karna kondisi sudah tidak memungkinkan, akhirnya dilakukan tindakan operasi caesar karena posisi janin juga terlilit tali usus (kalung usus). Padahal usia kandungan masih 8 bulan. Tetapi jika tidak dilakukan tindakan justru akan membahayakan janin dan juga ibu nya tentunya. Saya terus berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar. Dan yang terpenting bayi kami bisa lahir dengan sempurna dan selamat itu saja.

Sebelum masuk ke ruang operasi, Dokter kartipin menghampiri saya dan berkata terus berdoa ya. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Dan saya disuruh menunggu di ujung pintu keluar. Detik detik yang mungkin tidak akan bisa saya lupakan. Berusaha tetap tenang dan berfikir positif. Tepat jam setengah 5, putra pertama kami lahir. Gabriel Jonathan Permana lahir 1 April 2015. Dengan berat hanya 1,8 gram saja. Saat itu suster menyuruh saya untuk masuk melihat Gabriel untuk pertama kalinya. Suster menjelaskan dengan detail kondisi bayi laki laki kami. Semuanya normal, mata, telinga, hidung, mulut, anus, namun tampak lebam biru biru (kemungkinan terbentur perut ibunya waktu diambil) ada permasalahan di kakinya yang berbentuk O (melengkung) tapi kata susternya ini biasa pak dan bisa diperbaiki dengan rutin fisioterapi. Cukup melegakan mendengar kata suster.

Pertama melihat Gabriel sungguh menyayat hati sekaligus bercampur bahagia yang luar biasa karena ini putra pertama yang kami nantikan. Dengan berat yang jauh dibawah normal Gabriel perlu mendapatkan perawatan khusus.

Setelah persalinan dilewati dengan lancar, masih banyak problem yang harus kami hadapi. Biaya yang tidak sedikit untuk menebus semuanya. Waktu itu Istri saya dirawat di Gedung Ibu dan anak. Sedangkan Gabriel harus menginap di ruang khusus dengan bantuan incubator untuk menghangatkan suhu tubuhnya. Karena dengan bobot yang hanya 1800 gram dan dengan kondisi organ yang belum siap betul untuk lahir kedunia, perlu bantuan incubator, deteksi detak jantung, dan oksigen untuk alat bantu bernafas.

Kondisi yang tidak mungkin bisa saya ceritakan kepada Istri saat itu. Yang saya pesankan hanya satu waktu itu. Cepet pulih, cepet pulang biar biayanya gantian buat anak kita. Dihari ke dua Istri sudah boleh keluar menjenguk Gabriel di ruang incubator dengan bantuan kursi roda. Karena kondisinya yang kecil mungil tidak memungkinkan Gabriel untuk netek langsung. ASI diperah dan di suntikan perlahan melalui selang yang dimasukan melalui hidung menuju lambung :'( Itu adalah 5 ml ASI pertama yang mungkin tidak dia rasakan karena tidak melalui mulut.

Di hari ke 3 Istri sudah bisa untuk jalan, dan diperbolehkan pulang. Biaya kami fokuskan untuk proses pemulihan Jojo. Biaya sewa gedung, dan peralatannya saja sudah cukup mahal buat kami. Di tambah lagi dengan obat dan tindakan medis yang biayanya tidak murah. Proses pemulihan Jojo saat itu kondisinya naik turun. Target Dr Pongky (dokter anak) adalah untuk meningkatkan berat badan ke angka normal. Minimal 2Kg baru diperbolehkan pulang. Namun ternyata kondisinya naik turun. Sempat mengalami minum muntah. Dari yang tadinya 5 ml di evaluasi menjadi 3 ml. Bahkan pernah dicoba hanya 2ml. Padahal bayi normal membutuhkan 5-7 ml untuk 2 jam sekali.

Akhrinya diberi Gammarass karna katanya untuk meningkatkan imun, kemungkinan didalam masih ada bakteri akibat minum air ketuban. Sempat juga dilakukan foto rongent untuk melihat saluran dari mulut tenggorokan hingga lambung, dan diberi tindakan cairan (lupa namanya) untuk mengobati penyempitan usus. Semua upaya sudah dilakukan. Namun minum muntah tidak kunjung berhenti. Berat bobotnya bukannya naik malah turun ke 1,7Kg.

Karena asupan ASI yang tidak memadahi, Bilirubin  naik cukup tinggi. Al hasil Gabriel harus di beri lampu biru (Blue light) 8 buah lampu.

Tabungan semakin menipis, tetapi kondisi tak kunjung membaik. Akhirnya dokter Pongki menyarankan kami untuk mendatangkan pendeta. Untuk mendoakan Gabriel dan menyerahkan semuanya ke pada Tuhan. Waktu itu tante Handoko kepala (kelompok sel mamah saya) dengan senang hati bersedia meyalani. Tante han dan teman teman kelompok sel diperbolehkan masuk ke ruangan dan mendoakan untuk kesembuhan Gabriel. Kami semua berserah kepada Tuhan. Kami sungguh di legakan waktu itu. Kami percaya Tuhan yang menyediakan semuanya, baik dana dan juga kesembuhan sudah tersedia bagi Gabriel.

Sejak hari itu Puji Tuhan kondisi gabriel perlahan semakin membaik. Yang tadinya saya kepikiran terus dengan biaya. Sejak saat itu tidak lagi terbebani. Karena semuanya pasti sudah di cukupkan.

Evaluasi ASI juga sempat dilakukan, digantikan dengan S26 Cair (dalam botol) untuk menambah berat badannya. Masa pemulihan masih berlanjut, tetapi Dr. Pongki ijin cuti untuk ke Amerika. Tepat di hari ke 28. Kami mengajukan untuk membawa pulang Jojo. Melihat kondisi yang stabil, suhu tubuhnya sudah bisa normal tanpa bantuan incubator, dan sudah dapat minum melalui mulut akhirnya Gabriel diperbolehkan untuk pulang.

Wellcome to Home Gabriel 🙂

Gabriel Jonathan Permana

Sebelum pulang kami dibekali dengan hal hal teknis. Selalu cek suhu, untuk menghangatkan suhu bayi kami dekap secara bergantian (kulit bersentuhan dengan kulit) Kami juga menyiapkan lampu khusus untuk menghangatkan suhu tubuhnya. Berjemur setiap pagi. Termometer dan alat penyedot hidung bayi menjadi senjata kami.

Dari perjalanan itu semua, semakin menguatkan iman kami. Inilah kesaksian kami, Bahwa tidak ada yang mustahil apabila kita mengandalkan TUHAN. Semua seakan sudah digariskan, sudah ada yang membackup. Siapa lagi kalau bukan Tuhan. Seluruh biaya di tanggungnya seluruh beban di pikulnya. Kita tidak dibiarkan berjalan sendirian. Tuhan memberkati.

This entry was posted in Masalah Kehamilan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *