Perdarahan Kehamilan di Trimester Pertama

Kehamilan adalah hal yang paling kami nantikan sebagai sepasang suami istri yang baru saja menikah. Menginjak di bulan ketiga setelah pernikahan, istri saya dinyatakan positif hamil meski di diaknosa ada kista. Hari hari awal kehamilan kami lewati dengan hati yang sangat sukacita, yang kami pikirkan hanyalah mempersiapkan gizi dan kontrol ketat asupan makanan yang istri saya makan. Semuanya berjalan normal, hingga pada hari dimana suasana berubah tiba tiba. Pagi hari saya di bangunkan dan dikagetkan istri saya yang bilang kalau keluar darah warna coklat (flek) setelah buang air kecil.

ilustrasi pendarahan trimester pertama

Saya spontan tanya, “Kamu makan apa?” Istri saya mengaku tidak makan apa apa yang sekiranya membahayakan janin. Tapi Istri cerita kalau tadi pagi kepasar sendirian, naik motor untuk beli pisang. Kebetulan istri saya tidak bisa minum obat langsung telan, jadi dibantu pakai pisang. Biasanya sih nyuruh orang buat belikan. Nah karena stok pisangnya habis, Istri saya berangkat sendiri naik motor. Mungkin itu salah satu penyebabnya. Jadi bagi ibu ibu yang hamil muda atau hamil tua, mending jangan nekat naik motor apalagi sendirian. Karena kita tidak pernah tau kondisi janin. Bagi sebagian orang yang normal normal saja tidak ada masalah meski naik motor sekalipun, tapi bagi sebagian orang yang kondisi janinnya lemah seperti yang dialami istri saya, akibatnya bisa sangat fatal.

Segera kami konsultasikan dengan dokter kandungan kami, melalui telefon. Pada waktu itu masih di suruh istirahat. Jujur waktu itu saya panik, tetapi tetap saya tenangkan istri saya agar tetap berfikiran positif dan istirahat seperti yang di anjurkan dokter.

Siang harinya masih keluar flek. Dan flek ini selalu berulang setelah buang air kecil. Saya telf kembali Dokter Kartipin dan menjelaskan kalau flek masih keluar. Waktu itu flek nya masih warna coklat dan sedikit. Seperti jika wanita sedang akan berhenti haid. Dokter menyarankan untuk kontrol, dan sore harinya kami kontrol. Waktu itu masih rawat jalan dan diberi resep obat untuk menguatkan kandungan serta beberapa suplemen vitamin. Dirumah Istri sudah mulai bedrest, dan tidak melakukan aktivitas apapun.

Siang, Keesokan harinya flek masih tetap keluar dan kali ini lebih banyak. Kami konsultasikan dan dianjurkan ke rumah sakit. Malamnya kami ke UGD Dr Oen, di ruang bersalin istri saya diperiksa. Dan disarankan rawat inap. Waktu itu istri dirawat di Gedung kebidanan ruang kelas 2. Di satu ruangan terdapat 3 pasien yang dibatasi tirai. Saya dan Om saya menginap disana menungguin Istri saya. Tidur dengan alas seadanya. Jujur ini baru pertama kalinya saya menginap di rumah sakit, sejak kecil saya belum pernah dirawat (jangan sampai) ataupun menunggui orang di rumah sakit. Ternyata seperti ini suasananya. Malam itu istri saya dapat tidur dengan nyenyak karena suasananya sepi, karena kebetulan masuk opname nya malam.

Malam sampai paginya masih nyaman dengan perawatan suster yang jaga yang ramah memberikan pelayanan. Karena waktu itu istri saya sudah mulai full bedrest, buang air kecil pun pakai pispot stainless stil. Rutinitas buang air kecil, cebok, semua dilayani suter jaga dengan baik. Sedikit unek unek, pada waktu siangnya suasana berubah menjadi ramai. Pasien sebelah ada yang jenguk. Parahnya lagi bawa anak anak dan seolah olah dibiarkan orang tuanya berlarian. Istri saya mulai tidak nyaman karena waktu besuknya bertepatan pada waktu tidur siang. Segera saya minta suter jaga untuk memberi tahu pasien sebelah agar tidak teriak teriak, atau lari larian di dalam ruangan. Paling tidak biar di tegur orang tuanya. Karena mengganggu ketenangan jam istirahat. Suter pun seakan tidak berani menegur. Pelayanannya pun juga semakin kesini semakin tidak mengenakan. Kemungkinan pas jam jaga malam, pergantian suster jaga. Dan kebetulan dapat jatah suster yang sangat sangat tidak mengenakan. Wajar orang bedrest nyuruh bolak balik suster jaga untuk melayani buang air kecil karena itu sudah tugasnya.

Di hari pertama istri saya di USG, waktu itu yang menangani Dokter Eliana. Dari hasil USG, Puji Tuhan kondisi janin masih bagus. Tidak ada kerusakan, dan posisi masih pada tempatnya. Umumnya kalau posisi sudah turun, kemungkinan besar bisa keguguran. Karena hasilnya bagus tetap di upayakan untuk dipertahankan.

Setelah hari ke 4, Istri saya sudah boleh pulang karena sudah tidak keluar flek lagi. Tapi setelah mau pulang, Flek itu datang lagi. Dokter menyarankan untuk tetap rawat inap. Saya dan istri sepakat untuk tetap pulang hari itu karena sudah tidak betah. Dan kami menandatangani surat pernyataan. Menyatakan menolak untuk dirawat selanjutnya dan telah memaksa Pulang atas kemauan sendiri dengan menanggung segala akibatnya. Waktu itu saya berfikir saya bisa merawat istri saya sendiri dirumah. Di rumah lebih nyaman, lebih bisa istirahat. Pelayanannya pun bisa saya lakukan sendiri. Untungnya saya kerja dirumah jadi bisa merawat istri dengan penuh. Benar benar full bedrest, pakai pampers, ganti pampers, buang air kecil, buang air besar, makan, minum, semuanya saya yang melayani. Bedanya obatnya obat jalan / minum. Tidak suntik &seperti di rumah sakit.

Pada waktu dirumah, sudah bedrest total tapi flek pendarahan masih berlanjut. Sampai di suatu siang terjadi pendarahan yang banyak dan kali ini warnanya gelap coklat (maaf seperti kecap) keluar seperti keputihan. Kepanikan mulai muncul, saya dan istri sempat bersitegang. Karena waktu itu istri saya bisanya cuman nangis, dan selalu berfikiran negatif. Sayapun tambah panik. Saya hubungi Dokter Kartipin, kebetulan waktu itu sedang operasi juga. Dan masih sempat mengangkat telf dari pasiennya. Dokter kartipin tidak berani memberi kesimpulan karena harus di periksa secara langsung. Sore nya kami bergegas kontrol, istri saya di USG. Dokter menjelaskan kalau terdapat luka pada ari ari janin Gabriel, dan disarankan untuk kembali rawat inap. Karna jika tidak ditangani secara khusus bisa beresiko keguguran.

Saya berusaha kembali menenangkan istri agar tetap berfikiran positif dan jangan stress, karena pastinya berpengaruh ke janin. Dimalam harinya saya bergumul kepada Tuhan, saya dengarkan lagu puji pujian sambil berdoa. Airmata mulai mengalir deras, campur aduk, rasa cemas, takut, bingung, sudah ndak karuan rasanya dan sempat mengadu kepada Tuhan.

Tuhan kalau memang ini jalanmu, kalau memang janin ini belum Engkau percayakan kepada kami, ambilah. Tetapi jika ini Engkau titipkan kepada kami, Berkati dan sembuhkan janin ini Tuhan.

Sekitar tengah malam, saya coba kontak teman saya Vita Agustina. Dan kebetulan Nana masih bangun dan membalas bbm saya. Saya cerita apa yang sedang saya alami. Nana sendiri juga pernah mengalami flek, dan disuruh bedrest juga. Tapi Tuhan berkehendak lain, Nana keguguran. Dari pengalaman Nana sebelumnya, dia mendorong saya untuk tetap mempertahankan janin yang ada di kandungan Istri saya. Kata kata yang masih teringat di kepala saya adalah

“Itu nyawa lo ngga, jangan menyerah tetap pertahankan. Jangan sampek kamu nyesel nantinya.”

Saya mengimani ini adalah jawaban Tuhan, melalui nana saya di kuatkan. Saya percaya Tuhan yang akan membuat ini semuanya indah. Pagi harinya saya bilang ke istri untuk segera berkemas kemas, bawa pakaian ganti. Kita ke Dr Oen untuk rawat inap. Karena sebelumnya sudah merasakan suasana di ruang 2 Gedung kebidanan, kali ini saya memilih ruang VIP Gedung Ibu dan Anak. Sudah tidak memikirkan berapa biaya yang akan kami keluarkan karena saya yakin Tuhan akan mencukupkan semuanya, yang terpenting waktu itu adalah Istri saya nyaman dan janin selamat. Pergumulan kami masih berlanjut tidak hanya sampai disini. Kami perjuangkan janin ini, kami serahkan semuanya kepada Tuhan. Satu ayat yang kami pegang

Matius 9:20-22 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. (21) Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.

This entry was posted in Masalah Kehamilan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *